Ritual Adat Nai Sa’o Sambut Kehadiran Yonif TP 834/Wakanga Mere di Nagekeo

Ritual Adat Nai Sa’o Sambut Kehadiran Yonif TP 834/Wakanga Mere di Nagekeo



Gemabangsa.id, NTT, Nagekeo - Batalion Teritorial Pembangunan (TP) 834/Wakanga Mere (WM) menggelar prosesi adat Nai Sa’o atau adat masuk rumah/satuan sebagai bentuk penerimaan secara adat, penghormatan terhadap budaya lokal, sekaligus mempererat hubungan kebersamaan antara prajurit Yonif TP 834/Wakanga Mere dengan masyarakat Kabupaten Nagekeo, Sabtu (23/05/2026).

Tradisi adat Nai Sa’o memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Nagekeo. Prosesi ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk pengakuan dan penerimaan terhadap pihak yang hadir sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat. Kehadiran Yonif TP 834/Wakanga Mere pun disambut dengan penuh sukacita, harapan, serta semangat kebersamaan demi memperkuat hubungan antara TNI dan masyarakat.

Komandan Kodim 1625/Ngada, Letkol Inf. Imam Subakti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan adat masuk rumah/satuan tersebut merupakan bentuk doa bersama demi keselamatan dan keberkahan seluruh personel yang akan mengabdi di satuan Yonif TP 834/Wakanga Mere.

Ia mengatakan, seluruh pihak yang hadir memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar para prajurit yang akan menempati asrama maupun lingkungan satuan senantiasa mendapatkan perlindungan, keselamatan, serta keberkahan selama menjalankan pengabdian.

“Acara adat masuk rumah atau satuan Batalion TP 834/Wakanga Mere ini merupakan momentum untuk bersama-sama memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar seluruh personel yang akan menempati asrama maupun kesatuan yang kita cintai ini selalu mendapat perlindungan, keselamatan, serta keberkahan dalam mengabdi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Letkol Imam Subakti berharap seluruh personel, mulai dari Komandan Batalion hingga para anggota Yonif TP 834/WM, selalu diberikan perlindungan oleh Tuhan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Menurutnya, prosesi adat yang dilaksanakan tersebut juga merupakan bagian dari penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Nagekeo yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Acara ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang hidup di tanah Nagekeo. Karena itu, tradisi seperti ini perlu terus dijaga agar tetap berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi kita semua,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Shafar Laga Rema, mengatakan bahwa kehadiran seluruh pihak dalam suasana penuh sukacita pada prosesi adat masuk rumah/satuan Yonif TP 834/Wakanga Mere menjadi momentum penting yang memiliki makna historis bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo.

Menurutnya, prosesi adat tersebut bukan hanya sebuah kegiatan seremonial biasa, tetapi merupakan simbol penerimaan secara tulus masyarakat adat terhadap Yonif TP 834/Wakanga Mere sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Nagekeo.

“Momentum ini bukan sekadar seremoni formal, tetapi sebuah peristiwa bersejarah yang sarat makna bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo,” ujarnya.

Shafar menjelaskan bahwa dalam budaya masyarakat Nagekeo, menerima seseorang masuk ke dalam rumah memiliki makna menerima mereka sebagai keluarga yang akan hidup bersama dalam ikatan sosial, hak, tanggung jawab, serta persaudaraan.

Oleh karena itu, melalui prosesi adat Nai Sa’o, masyarakat Nagekeo secara terbuka menerima kehadiran Yonif TP 834/Wakanga Mere untuk hidup berdampingan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

“Melalui prosesi adat ini, masyarakat Nagekeo dengan tulus membuka pintu hati dan rumah bagi Yonif TP 834/Wakanga Mere sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Nagekeo,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat memiliki arti strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai institusi yang lahir dari rakyat, dibesarkan oleh rakyat, dan mengabdi kepada rakyat, TNI memiliki peran penting dalam menjaga keamanan sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat.

Menurutnya, kekuatan utama TNI tidak hanya terletak pada kemampuan pertahanan dan kedisiplinan, tetapi juga pada semangat kemanunggalan dengan rakyat.

“Semangat TNI Manunggal dengan Rakyat harus terus menjadi fondasi utama dalam pengabdian. Ketika TNI hadir dekat dengan masyarakat, mendengar aspirasi rakyat, serta turut merasakan suka dan duka masyarakat, maka pertahanan negara dibangun bukan hanya dengan kekuatan senjata, tetapi juga kepercayaan, solidaritas, dan cinta tanah air,” tegasnya.

DPRD Kabupaten Nagekeo juga berharap Yonif TP 834/Wakanga Mere tidak hanya menjadi penjaga keamanan dan kedaulatan wilayah, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis masyarakat dalam pembangunan daerah.

Kehadiran batalion tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam berbagai sektor, mulai dari pembinaan generasi muda, dukungan terhadap pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan pangan, penanganan kebencanaan, hingga menjaga persatuan dan kerukunan sosial di tengah keberagaman masyarakat Nagekeo.

Shafar juga menegaskan bahwa Kabupaten Nagekeo merupakan daerah yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, gotong royong, serta penghormatan terhadap adat dan budaya. Nilai-nilai tersebut dinilai sejalan dengan semangat pengabdian TNI.

Karena itu, pihaknya optimistis hubungan antara Yonif TP 834/Wakanga Mere dan masyarakat akan terjalin erat, harmonis, serta saling menguatkan dalam menjaga stabilitas daerah.

“Atas nama lembaga DPRD Kabupaten Nagekeo, kami menyatakan komitmen untuk terus mendukung segala upaya yang memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan TNI demi terciptanya daerah yang aman, damai, maju, dan sejahtera,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, yang diwakili Asisten II Setda Kabupaten Nagekeo Elias Tae, menyampaikan bahwa pembangunan kantor dan asrama Yonif TP 834/Wakanga Mere merupakan langkah strategis dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas, pelayanan, pembinaan personel, serta peningkatan disiplin dan profesionalisme prajurit.

Menurutnya, fasilitas tersebut tidak hanya menjadi tempat bekerja dan beristirahat, melainkan juga simbol komitmen, tanggung jawab, serta pengabdian prajurit kepada masyarakat, daerah, dan bangsa.

“Pembangunan kantor dan asrama ini merupakan langkah penting dalam mendukung kelancaran tugas pelayanan, pembinaan, serta peningkatan disiplin dan profesionalisme seluruh personel. Fasilitas ini bukan hanya menjadi tempat bekerja dan beristirahat, tetapi juga simbol komitmen, tanggung jawab, dan pengabdian bagi kepentingan masyarakat, daerah, dan bangsa,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Nagekeo juga menyampaikan apresiasi dan penghormatan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan fasilitas tersebut, baik dari unsur pemerintah, TNI/Polri, maupun masyarakat yang telah mendukung terlaksananya pembangunan dengan baik.

Pihak pemerintah daerah berharap keberadaan kantor dan asrama Yonif TP 834/Wakanga Mere mampu meningkatkan semangat kerja, koordinasi lintas sektor, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Selain itu, keberadaan Yonif TP 834/Wakanga Mere diharapkan menjadi kekuatan penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah sekaligus mendukung percepatan pembangunan daerah.

“Mari kita jaga dan manfaatkan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab agar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi organisasi maupun masyarakat luas,” tuturnya.

Pantauan di lokasi, prosesi adat masuk rumah/satuan tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Yonif TP 834/Wakanga Mere, Letkol Inf. Justikhandinata T. Acara berlangsung penuh khidmat dengan dihadiri berbagai unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga perwakilan lembaga dan instansi di Kabupaten Nagekeo.

Diketahui, Yonif TP 834/Wakanga Mere memiliki kekuatan sebanyak 593 personel yang akan bertugas dan mengabdi di wilayah tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan itu Kapolres Nagekeo, Wakil Ketua DPRD Nagekeo, perwakilan Kantor UPP Kelas III Marapokot, para tokoh dan fungsionaris adat serta masyarakat Mbay/Dhawe, anggota TNI AL Posal Mbay, Camat Aesesa, hingga pimpinan perbankan cabang Mbay.