Gemabangsa.id, Tebo - Puluhan siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) Negeri 23 Desa Tuo Ilir, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, menyampaikan pesan terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Lewat sebuah rekaman video, para murid secara kompak meminta perhatian pemerintah pusat terkait pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam video tersebut, para siswa yang mengenakan seragam sekolah batik merah berdiri dan duduk bersama di dalam ruang kelas.
Didampingi suasana yang tertib, mereka membacakan pernyataan bersama secara serentak.
"Dengan hormat Bapak Presiden Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Kami seluruh siswa-siswi SD Negeri 23 Tebo Ilir, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, sampai saat ini kami belum menikmati dan menerima Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari program Presiden. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap para siswa secara serentak Rabu (16/9/2026).
Melalui pesan tersebut, para murid berharap agar pemerataan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah dapat segera menyentuh sekolah mereka di wilayah pelosok daerah, sehingga seluruh anak sekolah mendapatkan hak dan keadilan akses gizi yang sama.
Selain tak menerima MBG, kondisi bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 23/VIII Desa Tuo Ilir, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, sangat memprihatinkan.
Selama puluhan tahun, fasilitas pendidikan ini terpaksa beroperasi dalam keadaan rusak parah tanpa adanya perbaikan yang memadai dari pemerintah daerah Tebo.
Kerusakan paling berat terlihat pada atap dan plafon ruang kelas tiga hingga kelas enam. Sebanyak empat ruang kelas mengalami kebocoran setiap kali hujan turun.
Situasi ini mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar. Ketika hujan deras mengguyur, para siswa terpaksa menggeser dan memindahkan kursi mereka ke area yang lebih kering untuk menghindari tetesan air.
Selain masalah kebocoran yang tak kunjung usai, material plafon yang lapuk dan rusak parah juga menimbulkan kekhawatiran besar.
Pihak sekolah merasa cemas jika sewaktu-waktu plafon tersebut runtuh dan menimpa siswa maupun guru yang sedang berada di dalam kelas.
Guna menjaga proses pembelajaran tetap berjalan, para guru berusaha memperbaiki kerusakan tersebut secara mandiri dengan bahan seadanya.
Langkah darurat ini diambil karena belum ada penanganan resmi dari pemerintah setempat.
Upaya permohonan bantuan sebenarnya telah berulang kali dilakukan. Pihak sekolah sudah berkali-kali mengajukan proposal perbaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo, hingga kini usulan tersebut belum pernah terealisasi.
Para tenaga pengajar sangat berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Tebo dapat memberikan perhatian serius.
Pemerintah diharapkan turun langsung ke lokasi untuk melihat secara jelas kondisi memprihatinkan yang dialami SDN 23/VIII Tuo Ilir, sekaligus segera mengambil tindakan nyata demi keselamatan dan kenyamanan belajar para siswa. (*)


