Plesiran Ke Pulau Jawa, Warga Anggap Studi Banding Para Rio Hanya Kedok Untuk Hamburkan Dana Desa


Plesiran Ke Pulau Jawa, Warga Anggap Studi Banding Para Rio Hanya Kedok Untuk Hamburkan Dana Desa



Gemabangsa.id, Bungo - Rencana keberangkatan Plesiran Ratusan Para Rio dan Istri, menuai banyak tanggapan negatif dari warga Bungo.

Dari rencana Plesiran Datuk Rio dan Istri yang menggunakan Dana Desa ke Surabaya tersebut, warga mengganggap hanya kedok belaka.

Banyak yang beranggapan jika kepergian mereka hanya untuk pelesiran dan menghabiskan anggaran atau uang negara saja. Sebab pengalaman sebelumnya hanya sedikit sekali dari mereka yang pergi benar-benar menambah ilmu dan wawasan.

Bahkan, warga juga menilai, kepergian ditengah mewabahnya Covid-19 saat ini, sangat tidak pas untuk para Rio melakukan studi banding keluar kota.

"Silahkan pergi, tapi tidak untuk sekarang. Sekarang kan masih suasana Covid-19," kata Fahmi warga Bungo.

Fahmi juga menyebutkan, jika para Rio ingin menimba dan menuntut ilmu, tidak harus berpergian seperti kondisi keuangan negara yang saat masih devisit. 

Dirinya menilai, Plesiran saat ini hanya untuk menghamburkan dana desa semata. Sebaiknya datangkan orang yang berkompeten tersebut ke Bungo, bukan dengan cara pergi kesana.

"Datangkan orang itu kesini. Jangan kita yang kesana. Jika perlu bagi shif sesuai dengan potensi daerah. Misal, dari Batang Bungo butuhnya pariwisata, kita datangkan orang dari daerah wisata. Jadi uang negara lebih hemat dan bisa digunakan untuk pembangunan dusun," jelasnya.

Ditengah keuangan daerah yang tengah terseok-seok dihantam pandemi Covid-19, namun ratusan orang Datuk Rio (Kepala Desa,red) dari berbagai dusun di Kabupaten Bungo malah pelesiran.

Bahkan, dari rencana keberangkatan Plesiran tersebut, mereka sudah melakukan iuran untuk keberangkatan nantinya. Iuran tersebut bersumber dari Dana Desa.

Tak tanggung-tanggung, iuran tersebut mencapai belasan juta rupiah perdusun. Iuran tersebut diperuntukkan untuk akomodasi selama disana termasuk ongkos pulang pergi, penginapan dan makan. Dan itu diluar uang saku.

Keberangkatan kali ini sedikit berbeda dengan yang sudah-sudah. Dimana kali ini Datuk Rio membawa isterinya, sementara perangkat desa lainnya tidak dibawa.

"Sudah jelas saat ini, keadaan Anggaran sedang sulit, malah memilih pergi Plesiran, dengan menggunakan dana negara, bersama sang istri,""ujarnya.

Sementara, Ketua Forum Rio Kabupaten Bungo Ziyadi ketika dikonfirmasi membenarkan jika dalam waktu dekat ini ada Rio dan isteri bakal melakukan studi banding ke Pulau Jawa.

"Tujuannya ke Surabaya," kata Ziyadi.

Dikatakan Ziyadi, tidak semua Rio yang ada di Bungo bakal pergi mengikuti kegiatan ini. Jumlahnya dibawah 100 Rio.

"Tidak semua TP PKk juga yang ikut. Ada yang Rio nya saja," kata Ziyadi lagi. 

Keberangkatan tersebut bakal menggunakan Dana Desa. Setiap Dusun melakukan iuran sebesar Rp 4,5 juta perorang. Jika perginya dua orang atau lebih, maka langsung ditambah Rp 4,5 juta saja. 

Biaya tersebut akan digunakan untuk akomodasi selama disana nantinya, seperti penginapan, dan sebagainya. Sementara untuk tiket pesawat, itu diluar iuran yang ditetapkan tersebut.

"Rp 4,5 juta diluar tiket pesawat," ungkap Ziyadi yang juga merupakan Datuk Rio Tebing Tinggi.

Merujuk dari situs Traveloka, saat ini harga tiket pesawat untuk Jambi tujuan Surabaya terbesar diangka Rp 2,2 juta perorang, sementara termurahnya Rp 1,2 juta.

Sesuai informasi yang disampaikan perangkat desa, satu desa menganggarkan hingga puluhan juta. Namun itu tergantung dengan kesepakatan pemerintah desa.

"Kalau didusun sayo, anggaran untuk berangkat ini Rp 30 juta. Itu sudah termasuk biaya tak terduga lainnya," kata Fi perangkat Dusun yang berada di kecamatan Tanah Sepenggal.

Dirinya menyayangkan dengan kepergian perangkat Dusun itu, sebab dana yang dianggarkan cukup besar. Selain itu, saat ini masih dalam situasi Covid-19.

"Kalau untuk pergi saat ini rasanya kurang etislah. Keuangan daerah kita masih kempang kempis," katanya lagi.

Menurut mantan perangkat Dusun yang pernah ikut studi banding, kegiatan tersebut hanyalah cerimonial saja. Sedikit sekali perangkat Dusun yang mengikuti kegiatan itu dengan serius.

"Yang jelasnya kesana tu hanya Pelesiran bae. Dikit yang memahami kegiatan itu," kata mantan perangkat Dusun itu.

"Kebanyakan ya ketempat wisata. Bahkan tidak sedikit yang ketempat hiburan malam, mabuk-mabukan dan main wanita malam," sambungnya.(ST)