Membedah Narasi “Rumah Bersama”: Antara Retorika Inklusif dan Realitas Eksklusi

Membedah Narasi “Rumah Bersama”: Antara Retorika Inklusif dan Realitas Eksklusi



Oleh: Jeratus Nian

Awal tahun 2026 dibuka dengan sebuah narasi puitis tentang Nagekeo sebagai “Rumah Bersama”. Tulisan saudara E. Embu mengajak kita semua untuk menanggalkan atribut masa lalu, menghentikan sisa-sisa kecurigaan, dan fokus pada kolaborasi. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke bawah permukaan retorika yang indah itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: rumah bersama untuk siapa?

Sebuah rumah disebut “bersama” bukan karena penghuninya dipaksa melupakan sejarah, melainkan karena ada rasa keadilan dan penghargaan di dalamnya.

Etika Kesetiaan vs Pragmatisme Sahabat Baru

Narasi yang dibangun E. Embu seolah menempatkan kritik dari tim lama sebagai “beban masa lalu” atau kegagalan untuk move on. Ini adalah penyederhanaan yang keliru. Mengutip ilmu administrasi publik atau teori identitas sosial Tajfel dan Turner untuk menjustifikasi pergeseran koalisi merupakan upaya intelektualisasi yang mengabaikan aspek moral paling dasar, yakni etika politik.

Dalam realitas politik, ada fenomena yang mengkhawatirkan: ketika sahabat baru datang dengan pujian dan perhatian lebih, sahabat lama yang berdarah-darah di medan perjuangan justru ditinggalkan. Pertanyaannya, apakah ini bentuk kedewasaan sosial, atau sekadar sikap selfish atau egois demi kenyamanan posisi?

Membangun kebersamaan dengan mengabaikan mereka yang membangun fondasi kemenangan bukan sedang merawat kohesi sosial, melainkan mempertontonkan pragmatisme yang dingin. Jika tim lama dianggap berdosa, dosa apa yang lebih besar daripada kesetiaan?

Kohesi Sosial Tidak Bisa Dibangun di Atas Amnesia

Tulisan tersebut mengutip Robert Putnam tentang fragmentasi sosial. Namun, perlu diingat bahwa kohesi sosial hancur bukan hanya karena perbedaan pilihan politik, melainkan karena hilangnya kepercayaan.

Bagaimana publik bisa percaya pada narasi “Nagekeo Kita” jika di dalam internal pemerintahan sendiri, narasi itu hanya dinikmati oleh segelintir wajah baru yang bergabung saat hidangan sudah tersaji di meja?

Siapa yang sebenarnya merusak citra kohesi sosial? Apakah mereka yang mengkritik karena merasa ditinggalkan, atau mereka yang sengaja menciptakan sekat-sekat baru demi mengamankan diri sendiri?

Keadilan substantif harus ditegaskan. Demokrasi yang matang bukan berarti menghapus sejarah perjuangan. Profesionalisme ASN memang harus dijunjung, namun arah kebijakan dan kepercayaan atau amanah tidak boleh tercerabut dari akar perjuangan yang melahirkannya.

Penutup: Renungan untuk Pemimpin

Nagekeo memang rumah kita. Tetapi rumah yang sehat tidak akan membiarkan anak-anak kandungnya berdiri di luar kedinginan, sementara tamu-tamu baru berpesta pora di ruang tamu hanya karena mereka lebih pandai memuji.

Narasi “Nagekeo adalah kita, bukan mereka” akan menjadi slogan kosong jika perilaku politik yang dipertontonkan justru sangat mereka sentris. Sebelum tahun 2026 melangkah lebih jauh, berhentilah bersembunyi di balik diksi-diksi indah.

Cepatlah merenung sebelum terlambat. Karena pada akhirnya, rakyat dan sejarah tidak hanya menilai dari apa yang ditulis di atas kertas opini, tetapi dari siapa yang dirangkul saat badai benar-benar datang, bukan saat pelangi baru saja muncul.

Selamat berpikir dengan cerdas.